Connect with us

Featured

Jelang Lawan Spanyol, Italia Kehilangan Spinazzola.

Published

on

Flygoal.com – Tim nasional Italia telah tampil gemilang dalam pelaksanaan Euro 2020 sejak Juni lalu. Mereka tampil dominan dalam laga grup, bahkan di babak gugur mereka telah mengalahkan beberapa tim seperti Austria di babak 16 besar dan Belgia, tim yang difavoritkan menjadi juara tahun ini, di babak perempat final.

Tim asuhan Roberto Mancini tersebut akan bermain di dalam babak semi final dan dalam fase tersebut mereka akan berhadapan dengan tim kuat Eropa lainnya, yakni tim nasional Spanyol. Namun, jelang pertandingan antara kedua tim besar tersebut, Italia justru harus kehilangan salah satu pemainnya, yakni Leonardo Spinazzola.

Spinazzola mengalami cedera di babak kedua laga perempat final Euro 2020 antara Belgia melawan Italia di Allianz Arena. Pada saat itu, dirinyamencoba untuk mengejar bola bersama dengan salah satu pemain Belgia, Thorgan Hazard sebelum akhirnya dirinya tiba-tiba menghentikan langkahnya dan kemudian meringis  kesakitan serta meminta kepada tim agar dirinya digantikan dengan pemain lain.

Cederanya saat itu tampak cukup parah melihat reaksi kesakitan yang ditampilkan oleh sang pemain AS Roma yang menangis sambil ditandu keluar lapangan oleh pihak medis yang bertugas.

Setelah pertandingan tersebut, Spinazzola dinyatakan mengalami cedera tendon Achilles yang membuat dirinya harus absen dari lapangan hijau dalam jangka waktu yang cukup lama.

Dilaporkan oleh pemberitaan asal Italia, Calciomercato Spinazzola telah menjalani operasi untuk pemulihan cedera otot Achilles miliknya di NEO Hospital, Hungaria. Diperkirakan dengan operasi tersebut dan apabila proses rehabilitasi yang akan dijalankannya berjalan dengan baik, dirinya akan absen untuk setengah tahun.

Kehilangan Spinazzola merupakan pukulan yang cukup telak bagi tim nasional Italia yang mencoba untuk tampil baik melawan Spanyol dan bermain di babak final. Dikutip dari Football Italia, salah satu pemain tim nasional Italia, Federico Chiesa telah mengungkap rasa kasihan terhadap Spinazzola dengan mengatakan, “Saya sangat kasihan melihat Spina. Dirinya sempat menjalani kompetisi Euro dengan baik. Pemain yang penting bagi kami. Kami layaknya saudara dan secara metafora, kehilangan saudara itu tidak enak.”

“Saya berharap yang terbaik untuknya. Dirinya merupakan pemain yang hebat dan kami akan merindukannya dalam pertandingan seperti ini. Sekarang dirinya harus memusatkan perhatiannya dalam penyembuhan. Kami akan mencoba membawakannya sesuatu yang hebat agar dirinya bahagia.”, tambah anak dari legenda sepak bola Italia, Enrico Chiesa tersebut.

Featured

Mengenal Fabio Quartararo, Sang Juara Bertahan MotoGP 2022

Published

on

By

Fabio Quartararo

Pada pementasan MotoGP 2022 ini, Fabio Quartararo akan menyandang predikat juara bertahan, setelah meraih gelar juara dunia pertamanya pada musim 2021 lalu.

Quartararo mengakhiri musim perdananya bersama tim Monster Energy Yamaha dengan raihan 278 poin, unggul 26 poin dari Francesco Bagnaia dari Ducati.

Sang pebalap asal Prancis tersebut sukses menjadi juara di klasemen rider pada MotoGP musim 2021, setelah meraih kemenangan pada lima seri dan masuk podium 10 kali.

Menjelang musim baru, mari mengenal lebih dalam perihal pebalap yang akan menjadi unggulan untuk meraih gelar juara pada MotoGP 2022 ini.

Profil Fabio Quartararo

Fabio Quartararo lahir di Nice, Prancis, pada 20 April 1999 silam. Dia memulai karier balapannya ketika masih berusia 4 tahun, sebelum pindah ke Spanyol untuk bersaing dalam ajang yang lebih profesional untuk pebalap muda.

Dia memenangkan gelar juara di kelas 50cc pada tahun 2008, 70cc pada 2009, dan 80cc pada 2011, sebelum naik kelas ke Moto3.

Quartararo menunggani motor CEV Repsol pada tahun 2013 di Moto3. Sempat mengalami kesulitan dengan hanya finis di 10 besar sekali dari empat kali balapan, Quartararo mengakhiri musim itu dengan meraih gelar juara setelah meraih kemenangan pada tiga balapan terakhir.

Dia tetap di CEV Repsol pada 2014, dan kembali mengakhiri musim dengan finis sebagai juara yang dominan, memenangkan sembilan dari 11 balapan pada musim itu.

Performanya di CEV membuat Quartararo naik kelas ke Kejuaraan Dunia Moto3. Dia memulai bersama Estrella Galicia, dan mampu finis di peringkat ke-10 di akhir musim.

Baca Juga: Daftar Lengkap Pembalap MotoGP 2022

Pindah ke Leopard Racing pada 2016, Quartararo mengalami musim yang buruk dengan tidak pernah meraih kemenangan di seri, dan raihan terbaiknya hanya finis di peringkat keempat di Austria.

Meski begitu, Quartararo tetap bisa naik kelas ke Moto2, dengan direkrut oleh Pons Racing pada 2017, kemudian membela Speed Up Racing pada musim berikutnya.

Memberi kesan menjanjikan, terlepas dari hasil akhirnya, yang hanya finis di peringkat ke-13 dan 10 di dua musimnya berlaga di Moto2, Quartararo direkrut tim MotoGP pada 2019.

Dia membalap untuk Petronas Yamaha SRT mulai 2019, dan sukses mengakhiri musimnya di level tertinggi dengan raihan 192 poin, berkat koleksi 7 podium dan 6 pole position.

Quartararo pun akhirnya mendapatkan promosi ke tim utama Yamaha, Monster Energy, pada tahun 2021 lalu untuk menggantikan sang legenda Valentino Rossi.

Dipersiapkan sebagai pendamping, Quartararo malah menyingkirkan Maverick Vinales di pertengahan musim.

Dia memulai musim dengan finis di urutan kelima di Losail, Qatar, namun memenangkan dua seri berikutnya.

Quartararo memperlihatkan performa yang konsisten hingga akhir musim dengan beredar di papan atas, meraih 10 podium dengan lima di antaranya adalah juara satu.

Dia unggul 52 poin dari Francesco Bagnaia ketika musim menyisakan tiga balapan lagi. Gugurnya Bagnaia dalam balapan di Misano, GP Emilia Romagna, mengakhiri perjuangan meraih gelar, dan Quartararo meraih gelar dengan dua balapan tersisa.

Continue Reading

F1

Profil Rio Haryanto, Eks Pembalap F1 Indonesia yang Kini Vakum

Published

on

By

Pembalap F1 Indonesia

Rio Haryanto pernah dikenal sebagai pembalap F1 Indonesia ketika berlaga untuk Manor Racing pada tahun 2016 silam, namun kini memutuskan untuk rehat dari lintasan balap.

Terakhir kali Rio ikut balapan adalah pada 2019/2020 ketika berpartisipasi dalam Asian Le Mans Series dan pada Blancpain GT World Challenge Asia untuk T2 Motorsports.

Masih berusia 28 tahun, namun pembalap kelahiran Surakarta, 22 Januari 1983 tersebut memutuskan untuk tidak aktif balapan lagi sekarang.

Profil Rio Haryanto

Sebelum menjadi pembalap F1 Indonesia, Rio sudah memulai kariernya di lintasan balap sejak masih sangat belia, dengan ikut balapan Go-Kart ketika masih kecil.

Tak ayal memang, sebab ayahnya adalah seorang mantan pembalap nasional, Sinyo Haryanto, yang sudah memperkenalkannya ke dunia balap sejak berusia enam tahun.

Ajang internasional perdananya adalah pada tahun 2008 silam, ketika bertanding di Asian Formula Renault Challenge, Formula Asia 2.0, dan Formula BMW Pacific.

Baca Juga: Dikalahkan Tuan Rumah, Hendra/Ahsan Runner-up India Open 2022

Rio mulai balapan pada berbagai seri, termasuk Australian Drivers’ Championship dan Asian Formula Renault Challenge.

Namun, fokusnya pada tahun 2009 ada pada Formula BMW Pacific, ketika dia mendominasi dengan meraih 11 kemenangan dari 15 kali balapan, ketika membalap untuk tim asal Malaysia, Meritus.

Berlanjut ke GP3 Series pada tahun 2010, Rio bergabung dengan tim satelit Manor Racing yang berlaga di ajang itu. Di sana, dia berada dalam satu tim dengan James Jakes, Adrien Tambay, dan Adrian Quaife-Hobbs.

Rio merupakan pembalap utama Manor, dengan finis di peringkat ketujuh di klasemen akhir kejuaraan. Dia punya predikat jagoan lintasan basah, karena memenangkan dua balapan di saat cuaca hujan.

Naik kelas ke GP2, Rio mengendarai mobil Carlin, dan menjadi pembalap asal Indonesia pertama yang balapan di level ini sejak Ananda Mikola di International Formula 3000 pada 2000 dan 2001.

Predikat jagoan lintasan basah berlanjut di sini ketika berhasil mengklaim pole position di Spa, Belgia, yang kala itu sedang hujan. Namun Rio mengakhiri kejuaraan di peringkat ke-14, dan raihan terbaiknya hanyalah fini di urutan kelima di Valencia, tak pernah menjadi juara.

Kariernya di GP2 berjalan dengan cemerlang, hingga berhasil finis di urutan keempat di GP2 Series musim 2015 dengan raihan 138 poin.

Digaet lagi oleh Manor untuk tampil di Formula 1, Rio melakoni debutnya di level tertinggi di Austria dengan buruk, karena terlibat dalam kecelakaan dengan Romain Grosjean.

Sayangnya, kariernya di Formula 1 tak berjalan baik. Prestasi terbaiknya hanyalah finis di urutan ke-15 di GP Monaco 2016. Pada tanggal 10 Agustus di tahun yang sama, Manor mengonfirmasi bahwa mereka mendegradasi Rio ke pembalap reserve karena kurangnya sponsor.

Sejak saat itu, kariernya mengalami kemunduran, hingga yang terakhir adalah finis di urutan ke-12 di Blancpain GT World Challenge Asia 2019, dan di tempat kesembilan pada Asian Le Mans Series 2019-2020.

Continue Reading

Featured

Tiga Pemain Bintang yang Sukses Bangkit usai Cedera ACL

Published

on

By

Cedera ACL

Cedera ACL telah menjadi momok menakutkan bagi para pesepak bola, karena pemulihannya tidak mudah; bisa memakan waktu berbulan-bulan, atau bahkan setahun.

Setelah pulih pun, menjaga kondisi agar tidak rentan cedera adalah sebuah tantangan tersendiri bagi para penyintas cedera ligamen lutut anterior (ACL).

Tak jarang, banyak di antara mereka yang pernah menderita cedera ini lebih dari sekali, seperti Nicolo Zaniolo dan Arkadiusz Milik, yang meredupkan performa mereka setelah pulih.

Cederanya Federico Chiesa baru-baru ini menciptakan kecemasan bahwa sang penyerang Juventus tidak akan menjadi pemain yang sama setelah dihantam ACL.

Namun, ada banyak pula pemain bintang yang sukses bangkit dari cedera buruk ini di masa lalu, dan kembali bersinar seperti sedia kala. Siapa saja mereka? Simak bahasan kami di bawah ini.

Roy Keane

Manchester United kehilangan gelandang bintangnya, Roy Keane, pada hampir sepanjang musim 1997/1998 silam, setelah dia mencederai ACL-nya ketika mencoba menekel pemain Leeds United, Alf-Inge Haaland.

Tanpa Keane, The Red Devils kehilangan gelar juara Premier League musim itu, yang akhirnya direbut oleh Arsenal.

Namun demikian, sang pemain asal Republik Irlandia tersebut berhasil meraih berbagai trofi setelah pulih, termasuk treble winners pada musim 1998/1999 silam.

Zlatan Ibrahimovic

Cedera ACL

Musim pertama Ibra di Man United harus diakhiri secara prematur setelah sang striker merobek ACL-nya dalam sebuah pertandingan Liga Europa kontra Anderlecht.

Padahal, sang pemain asal Swedia tersebut sedang melalui musim dengan gemilang, setelah mencetak 28 gol di semua ajang untuk United.

Meskipun saat itu sudah berusia 35 tahun, Ibra mampu bangkit. Menjajal LA Galaxy pada 2018, sang striker kembali ke Eropa dan menjadi penyebab kebangkitan AC Milan ketika bergabung pada Januari 2020 silam.

Rossoneri menjadi kandidat peraih Scudetto pada musim 2021/2022 ini, setelah berhasil kembali ke ajang Liga Champions untuk pertama kalinya di musim lalu, usai absen selama tujuh tahun.

Alan Shearer

Striker lainnya yang mengalami cedera ACL adalah Alan Shearer, yang mengalaminya pada musim debutnya bersama Blackburn Rovers. Padahal kala itu, dia sukses mencetak 16 gol dari 21 pertandingan di Premier League.

Namun, sekembalinya dari periode menepi, Shearer bangkit dengan mengukir 31 gol dari 40 penampilan pada musim berikutnya, dan memenangkan penghargaan pemain terbaik versi para penulis sepak bola.

Dia melanjutkan kegemilannya setelah gabung Newcastle United, dengan mengakhiri kariernya sebagai top skor sepanjang masa Premier League, dengan catatan 260 gol, yang masih bertahan hingga hari ini.

Continue Reading

Trending