Connect with us

International

Krisis Sri Lanka Makin Buruk, Padamkan Listrik Secara Nasional Hingga 10 Jam

Published

on

Krisis Sri Lanka Makin Buruk, Padamkan Listrik Secara Nasional Hingga 10 Jam

Akibat dari krisis Sri Lanka semakin buruk, kini negara tersebut mulai menerapkan pemadaman listrik harian 10 jam secara nasional pada Rabu (30/3). Hal ini dilakukan karena kehabisan listrik tenaga air dan kekurangan bahan bakar yang parah terjadi di Sri Lanka.

Perusahaan monopoli listrik negara mengatakan bahwa pihaknya telah memberlakukan pemadaman listrik selama 10 jam. Kebijakan tersebut naik dari awal bulan sebelumnya yang dilakukan hanya 7 jam.

Krisis Sri Lanka Makin Buruk, Padamkan Listrik Secara Nasional Hingga 10 Jam

www.aljazeera.com

Kenaikan durasi pemadaman yang terjadi di Sri Lanka disebabkan karena tidak adanya pasokan minyak untuk menghidupkan generator termal.

“Lebih dari 40 persen listrik Sri Lanka dihasilkan dari tenaga air. Namun, saat ini sebagian besar waduk hampir habis karena tidak ada hujan,” ujar seorang pejabat seperti yang dikutip dari Kumparan.

Baca Juga:

Sebagian besar dari produksi listrik merupakan dari batu bara dan minyak yang diimpor. Namun, kini Sri Lanka sudah tidak lagi memiliki devisa yang cukup untuk membayar pasokan untuk bahan-bahan tersebut.

Sementara itu, Ceylon Petroleum Corporation (CPC) milik negara tersebut mengatakan tidak akan ada diesel setidaknya selama dua hari. Selain itu, harga bahan bakar juga sering dinaikkan oleh pemerintah dan bensin naik hingga 92%, serta solar 76% sejak awal 2022.

Krisis Sri Lanka Makin Buruk, Padamkan Listrik Secara Nasional Hingga 10 Jam

images.news18.com

Selain itu, dalam krisis Sri Lanka pemerintah membutuhkan waktu 12 hari untuk mendapatkan 44 juta dollar AS untuk membayar pengiriman terbaru gas LP dan minyak tanah.

Kolombo memberlakukan larangan impor secara luas pada Maret 2020, untuk menyelamatkan mata uang asing yang dibutuhkan untuk melunasi utang luar negerinya yang sebesar US$51 miliar (Rp731 miliar).

Krisis Sri Lanka Makin Buruk, Padamkan Listrik Secara Nasional Hingga 10 Jam

globalnews24h.com

Larangan itu juga menyebabkan kelangkaan barang-barang penting yang meluas. Harga bahan pokok juga naik tajam.

Akibat dari krisis Sri Lanka telah terpaksa mendesak banyak rumah sakit untuk menghentikan operasi bedah rutin. Supermarket juga dilaporkan terpaksa menjatah makanan pokok, seperti beras, gula, dan susu bubuk.

Krisis Sri Lanka dalam bidang ekonomi sejak meraih kemerdekaan pada 1948 dan kini merupakan krisis ekonomi terburuk yang dialami negara Asia Selatan berpenduduk 22 juta orang tersebut.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

International

Shanghai Bakal Akhiri Lockdown per 1 Juni 2022 Mendatang

Published

on

By

shanghai

Shanghai berencana untuk kembali membuka wilayahnya dan mengakhiri karantina wilayah (lockdown) pada 1 Juni 2022 mendatang.

Dilansir dari laman CNN Indonesia, Zong Ming selaku Wakil Walikota menuturkan, berakhirnya masa karantina wilayah akan membuat masyarakat Shangai dapat kembali beraktivitas normal.

Sementara itu, langkah tersebut diambil karena sebanyak 15 dari 16 distrik di Shangai telah berhasil menghilangkan COVID-19 di luar area karantina.

Baca Juga:

Moda transportasi di Shanghai dibuka secara bertahap

Ilustrasi (Unsplash/Zhang Kenny)

Lebih lanjut, Shanghai akan mulai membuka secara bertahap moda transportasi darat seperti kereta api. Selain itu, pemerintah juga mulai kembali meningkatkan rute penerbangan domestik.

Adapun, tempat lainnya seperti supermarket, apotek, dan toko serbaguna di Shanghai sudah kembali beroperasi seperti sedia kala.

Karantina wilayah akan dilanjutkan jika kasus naik kembali

Ilustrasi (Reuters/Aly Song)

Kendati demikian, pemerintah setempat akan melakukan pencegahan infeksi hingga 21 Mei nanti. Namun, jika kasus positif COVID-19 kembali mengalami tren kenaikan, maka karantina wilayah akan dilanjutkan.

Seperti yang kita ketahui, pemerintah di China menerapkan kebijakan “Zero-Covid”. Dalam kebijakannya tersebut, pemerintah melarang warganya untuk berpergian untuk kepentingan non-esensial.

Kebijakan tersebut sempat membuat warga di China merasa frustasi karena sulit untuk mendapatkan pasokan makanan.

Continue Reading

International

Demi Turis, Selandia Baru akan Terbuka Sepenuhnya Mulai Agustus

Published

on

By

Selandia Baru

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan pada hari Rabu (11/5) bahwa pemerintah akan membuka negara sepenuhnya pada bulan Agustus, setelah mengakhiri salah satu peraturan terberat untuk melawan COVID-19.

Pengamanan perbatasan akan sepenuhnya diangkat dan seluruh pengetesan menjelang kepergian dihentikan mulai pukul 23.59 tanggal 31 Juli mendatang, dengan Ardern mengatakan bahwa Selandia Baru akan sepenuhnya terbuka untuk bisnis.

Jacinda Ardern (Image: Kompas)

Pembatasan sudah dilaksanakan pada Maret 2020 silam sejak pandemi dimulai, dengan Selandia Baru dipuji sebagai salah satu negara terbaik dalam melawan COVID-19 karena mencatatkan rasio kematian paling rendah di antara negara-negara berkembang.

Namun demikian, banyak yang mengkritik kurangnya fleksibilitas dan kekerasan yang terjadi, selain juga mengurangi perekonomian masyarakat.

Baca Juga:

Selandia Baru membuka diri demi industri pariwisata

Untuk sebagian besar pandemi, seluruh kedatangan internasional harus menjalani karantina selama dua pekan di fasilitas hotel yang dimiliki oleh pemerintah dengan militer berpatroli.

Pembatasan tersebut sudah tidak diberlakukan untuk warga lokal dan pengunjung dari negara-negara tertentu dengan kesepakatan bebas visa sebelumnya. Namun seluruh dunia harus dibuat menunggu hingga Oktober.

Milfourd Sound (Image: Wikiwand)

Dilansir dari The Jakarta Post, Ardern telah memutuskan untuk memajukan kesepakatan itu selama dua bulan lebih awal, terutama untuk industri pariwisata.

Selandia Baru menyambut 3,9 juta kedatangan internasional pada 2019, menjadikannya sebagai salah satu negara yang paling dituju sebelum pandemi, menghasilkan lebih dari 16 miliar dollar NZ (147,51 triliun rupiah) per tahun.

Continue Reading

International

Uni Eropa Izinkan Lepas Masker Saat di Pesawat

Published

on

By

uni eropa

Pemerintah Uni Eropa baru-baru ini mencabut peraturan penggunaan masker di pesawat. Tak hanya itu, masyarakat juga diperbolehkan untuk melepas masker saat berada di bandara.

Menurut Badan Keselamatan Eropa, hal tersebut dilakukan lantaran tingkat vaksinasi dan kekebalan di negara Eropa memiliki perkembangan yang signifikan.

“[Pedoman baru ini] memperhitungkan perkembangan terbaru dalam pandemi, khususnya tingkat vaksinasi dan kekebalan yang menyertainya di semakin banyak negara Eropa,” katanya, dikutip dari laman Detik.

Baca Juga:

Penumpang yang alami batuk pilek harus kenakan masker

Ilustrasi (Unsplash/Lukas Souza)

Kendati demikian, Patrick Ky selaku Direktur Eksekutif EASA menegaskan, bagi penumpang yang mengalami batuk dan bersin-bersin diimbau untuk menggunakan masker. Hal tersebut agar penumpang yang duduk di sampingnya tidak merasa terganggu.

“Penumpang yang batuk dan bersin harus sangat mempertimbangkan untuk memakai masker wajah untuk meyakinkan mereka yang duduk di dekatnya,” tegas Patrick.

Adapun, kebijakan pemerintah Uni Eropa untuk mencabut penggunaan masker di pesawat akan mulai diterapkan pada 16 Mei mendatang.

Pemerintah Uni Eropa tetap ingatkan selalu jaga kebersihan

Ilustrasi (Unsplash/Elizabeth McDaniel)

Lebih lanjut, Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa, Andrea Ammon menuturkan, kewajiban untuk menjaga kebersihan seperti mencuci tangan dan menjaga jarak harus tetap dilakukan.

Namun, jaga jarak bisa tidak dilakukan apabila menyebabkan kerumunan hingga kemacetan.

Di lain sisi, Kementerian Kesehatan Jerman masih mewajibkan penumpang di atas enam tahun untuk tetap menggunakan masker. Namun, masker bisa dilepas apabila penumpang hendak menikmati makanan.

Continue Reading

Trending