Connect with us

Featured

Unggul Diawal, Tottenham Akhirnya Ditaham 3-3 Oleh West Ham, Ini Kata Jose Mourinho

Published

on

Jose Mourinho

Flygoal.com – Tottenham Hotspur diimbangi West Ham United di lanjutan Liga Inggris. Sudah unggul 3-0 di babak pertama, lalu dipksa imbang 3-3 di akhir babak kedua.

Derby London tersaji di pekan kelima Liga Inggris, Tottenham Hotspur vs West Ham United berlangsung di Tottenham Hotspur Stadium pada Minggu (18/10) malam pukul 22.30 WIB.

Tottenham Hotspur unggul lebih cepa di babak pertama, sudah cetak tga gol sebelum pertandingan masuk 20 enit. Son Heung-Min mencetak gol kala laga baru berlangsung 47 detik, Setelahnya, Harry Kane mencatatkan nama di papan skor lewat dua golnya di menit delapan dan menit ke-16.

10 menit menjelang babak kedua tuntas, West Ham United mampu menyamakan kedudukan. Diawali dengan gol sundulan Fabian Balbuena di menit ke-82.

Bek tengah Spurs, Davidson Sanchez bikin gol bunuh diri di menit ke-85. Lalu saat pertandingan memasuki detik akhir di menit ke-90+4 pemain pengganti Manuel Lanzini cetak gol indah lewat tendangan melengkung dari luar kotak menyambut bola liar.

Hingga peluit panjang berbunyi, skor tuntas sama kuat 3-3.

Dilansir dari Sky Sport, Jose Mourinho, manajer Spurs ditanya pendapat soal pertandingan tersebut. Dia tampaknya tidak kaget dengan skor akhirnya.

“Inilah sepakbola, kami bisa unggul 3-0 lalu disamakan 3-3,” kata Mourinho. 

“West Ham bermain pantang menyerah, itu kredit buat mereka,” lanjutnya.

Jose Mourinho memuja-muji West Ham. Tidak ayal, gol-gol cepat dibalas gol-gol telat jadi drama di laga tersebut.

“Mudah bagi saya memuji West Ham. Mereka sudah ketinggalan tiga gold an kami mengontrol permainan. Mereka kemudian mencetak gol-gol balasan di akhir pertandingan dan mereka sangat beruntung,” papar Mourinho.

“Kami mungkin tidak beruntung, tapi kami layak menerima hasil ini,” lanjutnya.

Jose Mourinho dikenal suka menyalahkan pemain. Ada saja kadang dia bilang pemainnya malam berlari, telat menutup ruang dan sebagainya. Tapi tidak untuk kali ini, ia tampaknya angkat topi pada West Ham.

“Hasil pertandingan ini adalah pelajaran untuk tim, bukan untuk individu pemain,” tegasnya.

“Sangat mudah bagi saya untuk memuji West Ham. Mereka hanya harus percaya untuk mengejar ketertinggalan dan melakukannya,” tutup Mourinho.

Tottenham Hotspur mendominasi pertandingan tersebut. Hanya saha, West Ham United begitu impresif di babak kedua dan pantang menyerah.

“Di babak kedua mereka tampil menyerang dengan garis pertahanan tinggi dan kami punya beberapa kesempatan. Kami seharusnya memanfaatkan itu untuk mendapat kemenangan,” ungkap Mourinho.

Featured

Mengenal Fabio Quartararo, Sang Juara Bertahan MotoGP 2022

Published

on

By

Fabio Quartararo

Pada pementasan MotoGP 2022 ini, Fabio Quartararo akan menyandang predikat juara bertahan, setelah meraih gelar juara dunia pertamanya pada musim 2021 lalu.

Quartararo mengakhiri musim perdananya bersama tim Monster Energy Yamaha dengan raihan 278 poin, unggul 26 poin dari Francesco Bagnaia dari Ducati.

Sang pebalap asal Prancis tersebut sukses menjadi juara di klasemen rider pada MotoGP musim 2021, setelah meraih kemenangan pada lima seri dan masuk podium 10 kali.

Menjelang musim baru, mari mengenal lebih dalam perihal pebalap yang akan menjadi unggulan untuk meraih gelar juara pada MotoGP 2022 ini.

Profil Fabio Quartararo

Fabio Quartararo lahir di Nice, Prancis, pada 20 April 1999 silam. Dia memulai karier balapannya ketika masih berusia 4 tahun, sebelum pindah ke Spanyol untuk bersaing dalam ajang yang lebih profesional untuk pebalap muda.

Dia memenangkan gelar juara di kelas 50cc pada tahun 2008, 70cc pada 2009, dan 80cc pada 2011, sebelum naik kelas ke Moto3.

Quartararo menunggani motor CEV Repsol pada tahun 2013 di Moto3. Sempat mengalami kesulitan dengan hanya finis di 10 besar sekali dari empat kali balapan, Quartararo mengakhiri musim itu dengan meraih gelar juara setelah meraih kemenangan pada tiga balapan terakhir.

Dia tetap di CEV Repsol pada 2014, dan kembali mengakhiri musim dengan finis sebagai juara yang dominan, memenangkan sembilan dari 11 balapan pada musim itu.

Performanya di CEV membuat Quartararo naik kelas ke Kejuaraan Dunia Moto3. Dia memulai bersama Estrella Galicia, dan mampu finis di peringkat ke-10 di akhir musim.

Baca Juga: Daftar Lengkap Pembalap MotoGP 2022

Pindah ke Leopard Racing pada 2016, Quartararo mengalami musim yang buruk dengan tidak pernah meraih kemenangan di seri, dan raihan terbaiknya hanya finis di peringkat keempat di Austria.

Meski begitu, Quartararo tetap bisa naik kelas ke Moto2, dengan direkrut oleh Pons Racing pada 2017, kemudian membela Speed Up Racing pada musim berikutnya.

Memberi kesan menjanjikan, terlepas dari hasil akhirnya, yang hanya finis di peringkat ke-13 dan 10 di dua musimnya berlaga di Moto2, Quartararo direkrut tim MotoGP pada 2019.

Dia membalap untuk Petronas Yamaha SRT mulai 2019, dan sukses mengakhiri musimnya di level tertinggi dengan raihan 192 poin, berkat koleksi 7 podium dan 6 pole position.

Quartararo pun akhirnya mendapatkan promosi ke tim utama Yamaha, Monster Energy, pada tahun 2021 lalu untuk menggantikan sang legenda Valentino Rossi.

Dipersiapkan sebagai pendamping, Quartararo malah menyingkirkan Maverick Vinales di pertengahan musim.

Dia memulai musim dengan finis di urutan kelima di Losail, Qatar, namun memenangkan dua seri berikutnya.

Quartararo memperlihatkan performa yang konsisten hingga akhir musim dengan beredar di papan atas, meraih 10 podium dengan lima di antaranya adalah juara satu.

Dia unggul 52 poin dari Francesco Bagnaia ketika musim menyisakan tiga balapan lagi. Gugurnya Bagnaia dalam balapan di Misano, GP Emilia Romagna, mengakhiri perjuangan meraih gelar, dan Quartararo meraih gelar dengan dua balapan tersisa.

Continue Reading

F1

Profil Rio Haryanto, Eks Pembalap F1 Indonesia yang Kini Vakum

Published

on

By

Pembalap F1 Indonesia

Rio Haryanto pernah dikenal sebagai pembalap F1 Indonesia ketika berlaga untuk Manor Racing pada tahun 2016 silam, namun kini memutuskan untuk rehat dari lintasan balap.

Terakhir kali Rio ikut balapan adalah pada 2019/2020 ketika berpartisipasi dalam Asian Le Mans Series dan pada Blancpain GT World Challenge Asia untuk T2 Motorsports.

Masih berusia 28 tahun, namun pembalap kelahiran Surakarta, 22 Januari 1983 tersebut memutuskan untuk tidak aktif balapan lagi sekarang.

Profil Rio Haryanto

Sebelum menjadi pembalap F1 Indonesia, Rio sudah memulai kariernya di lintasan balap sejak masih sangat belia, dengan ikut balapan Go-Kart ketika masih kecil.

Tak ayal memang, sebab ayahnya adalah seorang mantan pembalap nasional, Sinyo Haryanto, yang sudah memperkenalkannya ke dunia balap sejak berusia enam tahun.

Ajang internasional perdananya adalah pada tahun 2008 silam, ketika bertanding di Asian Formula Renault Challenge, Formula Asia 2.0, dan Formula BMW Pacific.

Baca Juga: Dikalahkan Tuan Rumah, Hendra/Ahsan Runner-up India Open 2022

Rio mulai balapan pada berbagai seri, termasuk Australian Drivers’ Championship dan Asian Formula Renault Challenge.

Namun, fokusnya pada tahun 2009 ada pada Formula BMW Pacific, ketika dia mendominasi dengan meraih 11 kemenangan dari 15 kali balapan, ketika membalap untuk tim asal Malaysia, Meritus.

Berlanjut ke GP3 Series pada tahun 2010, Rio bergabung dengan tim satelit Manor Racing yang berlaga di ajang itu. Di sana, dia berada dalam satu tim dengan James Jakes, Adrien Tambay, dan Adrian Quaife-Hobbs.

Rio merupakan pembalap utama Manor, dengan finis di peringkat ketujuh di klasemen akhir kejuaraan. Dia punya predikat jagoan lintasan basah, karena memenangkan dua balapan di saat cuaca hujan.

Naik kelas ke GP2, Rio mengendarai mobil Carlin, dan menjadi pembalap asal Indonesia pertama yang balapan di level ini sejak Ananda Mikola di International Formula 3000 pada 2000 dan 2001.

Predikat jagoan lintasan basah berlanjut di sini ketika berhasil mengklaim pole position di Spa, Belgia, yang kala itu sedang hujan. Namun Rio mengakhiri kejuaraan di peringkat ke-14, dan raihan terbaiknya hanyalah fini di urutan kelima di Valencia, tak pernah menjadi juara.

Kariernya di GP2 berjalan dengan cemerlang, hingga berhasil finis di urutan keempat di GP2 Series musim 2015 dengan raihan 138 poin.

Digaet lagi oleh Manor untuk tampil di Formula 1, Rio melakoni debutnya di level tertinggi di Austria dengan buruk, karena terlibat dalam kecelakaan dengan Romain Grosjean.

Sayangnya, kariernya di Formula 1 tak berjalan baik. Prestasi terbaiknya hanyalah finis di urutan ke-15 di GP Monaco 2016. Pada tanggal 10 Agustus di tahun yang sama, Manor mengonfirmasi bahwa mereka mendegradasi Rio ke pembalap reserve karena kurangnya sponsor.

Sejak saat itu, kariernya mengalami kemunduran, hingga yang terakhir adalah finis di urutan ke-12 di Blancpain GT World Challenge Asia 2019, dan di tempat kesembilan pada Asian Le Mans Series 2019-2020.

Continue Reading

Featured

Tiga Pemain Bintang yang Sukses Bangkit usai Cedera ACL

Published

on

By

Cedera ACL

Cedera ACL telah menjadi momok menakutkan bagi para pesepak bola, karena pemulihannya tidak mudah; bisa memakan waktu berbulan-bulan, atau bahkan setahun.

Setelah pulih pun, menjaga kondisi agar tidak rentan cedera adalah sebuah tantangan tersendiri bagi para penyintas cedera ligamen lutut anterior (ACL).

Tak jarang, banyak di antara mereka yang pernah menderita cedera ini lebih dari sekali, seperti Nicolo Zaniolo dan Arkadiusz Milik, yang meredupkan performa mereka setelah pulih.

Cederanya Federico Chiesa baru-baru ini menciptakan kecemasan bahwa sang penyerang Juventus tidak akan menjadi pemain yang sama setelah dihantam ACL.

Namun, ada banyak pula pemain bintang yang sukses bangkit dari cedera buruk ini di masa lalu, dan kembali bersinar seperti sedia kala. Siapa saja mereka? Simak bahasan kami di bawah ini.

Roy Keane

Manchester United kehilangan gelandang bintangnya, Roy Keane, pada hampir sepanjang musim 1997/1998 silam, setelah dia mencederai ACL-nya ketika mencoba menekel pemain Leeds United, Alf-Inge Haaland.

Tanpa Keane, The Red Devils kehilangan gelar juara Premier League musim itu, yang akhirnya direbut oleh Arsenal.

Namun demikian, sang pemain asal Republik Irlandia tersebut berhasil meraih berbagai trofi setelah pulih, termasuk treble winners pada musim 1998/1999 silam.

Zlatan Ibrahimovic

Cedera ACL

Musim pertama Ibra di Man United harus diakhiri secara prematur setelah sang striker merobek ACL-nya dalam sebuah pertandingan Liga Europa kontra Anderlecht.

Padahal, sang pemain asal Swedia tersebut sedang melalui musim dengan gemilang, setelah mencetak 28 gol di semua ajang untuk United.

Meskipun saat itu sudah berusia 35 tahun, Ibra mampu bangkit. Menjajal LA Galaxy pada 2018, sang striker kembali ke Eropa dan menjadi penyebab kebangkitan AC Milan ketika bergabung pada Januari 2020 silam.

Rossoneri menjadi kandidat peraih Scudetto pada musim 2021/2022 ini, setelah berhasil kembali ke ajang Liga Champions untuk pertama kalinya di musim lalu, usai absen selama tujuh tahun.

Alan Shearer

Striker lainnya yang mengalami cedera ACL adalah Alan Shearer, yang mengalaminya pada musim debutnya bersama Blackburn Rovers. Padahal kala itu, dia sukses mencetak 16 gol dari 21 pertandingan di Premier League.

Namun, sekembalinya dari periode menepi, Shearer bangkit dengan mengukir 31 gol dari 40 penampilan pada musim berikutnya, dan memenangkan penghargaan pemain terbaik versi para penulis sepak bola.

Dia melanjutkan kegemilannya setelah gabung Newcastle United, dengan mengakhiri kariernya sebagai top skor sepanjang masa Premier League, dengan catatan 260 gol, yang masih bertahan hingga hari ini.

Continue Reading

Trending