Connect with us

Champion & UEFA

Chelsea Disingkirkan Real Madrid, Thomas Tuchel Keluhkan Sikap Wasit

Published

on

Thomas Tuchel

Manajer Chelsea, Thomas Tuchel, menuduh wasit Szymon Marciniak melakukan aksi yang tak pantas setelah timnya disingkirkan Real Madrid dengan skor 4-5 secara agregat dalam babak perempat final Liga Campions.

The Blues berhasil bangkit dari kekalahan 1-3 dari leg pertama di Stamford Bridge, dengan mencetak tiga gol pertama di Santiago Bernabeu pada Rabu (13/4) dini hari WIB.

Antonio Rudiger mencetak gol kedua Chelsea (Image: UEFA)

Chelsea sempat unggul 3-0 dan dalam situasi ini mereka akan melenggang ke semifinal, namun kemudian gol Rodrygo memaksa laga diteruskan ke babak perpanjangan waktu, dengan Karim Benzema mencetak gol “kemenangan” meskipun Madrid tetap kalah 2-3.

Thomas Tuchel menggarisbawahi kepemimpinan wasit, yang menganulir gol Marcos Alonso ketika kedudukan masih 2-0, karena itu bisa memengaruhi hasil akhir.

Baca Juga:

Thomas Tuchel kecewa berat

Seusai pertandingan, sang manajer asal Jerman pun melihat keanehan, karena wasit Marciniak bercengkrama asik dengan pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti.

“Saya kecewa karena wasit melalui masa-masa yang menyenangkan dengan kolega saya, Carlo Ancelotti,” kata Tuchel dalam wawancara seusai laga, dikutip dari Goal.

“Saya tahu bahwa Carlo adalah orang yang menyenangkan, namun ketika saya ingin keluar dan mengucapkan terima kasih untuk pertandingan, saya melihatnya tersenyum dan tertawa lepas dengan pelatih lawan.

Thomas Tuchel

Thomas Tuchel (Image: Getty)

“Saya kira ini adalah hal yang salah untuk dilakukan setelah laga yang berjalan selama 120 menit berakhir, dengan sebuah tim telah mengerahkan seluruh tenaga dan berjuang hingga tetes terakhir.

“Anda pergi dan melihat wasit tersenyum dan tertawa dengan pelatih lawan, saya kira itu adalah waktu yang sangat, sangat salah. Saya katakan kepadanya tentang ini dan itu saja.”

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Champion & UEFA

Kevin Trapp Jadi Pahlawan, Eintracht Frankfurt Juarai Liga Europa

Published

on

By

Eintracht Frankfurt

Kevin Trapp menampilkan performa yang patut dikenang ketika Eintracht Frankfurt berhasil mengalahkan Rangers lewat adu penalti di final Liga Europa pada Kamis (19/5) dini hari tadi WIB.

Tak hanya menggagalkan penalti Aaron Ramsey pada saat adu penalti, namun juga karena sejumlah penyelamatannya, termasuk di babak perpanjangan waktu.

Eintracht Frankfurt rayakan trofi Liga Europa (Image: Twitter)

Frankfurt sempat tertinggal lebih dulu karena gol Joe Aribo pada menit ke-57, yang memaksimalkan serangkaian kesalahan lini pertahanan tim asal Jerman tersebut.

Namun, Rafael Santos Borre berhasil menyetarakan kedudukan pada 12 menit kemudian untuk Eintracht Frankfurt, setelah memaksimalkan umpan dari Filip Kostic.

Rafael Santos Borre usai mencetak gol (Image: Twitter)

Kedua tim saling menjual-beli serangan hingga akhir, namun tak ada gol tambahan yang tercipta hingga laga harus ditentukan lewat adu penalti.

Seluruh eksekutor penalti berhasil melaksanakan tugasnya, hanya Aaron Ramsey yang gagal, namun itu juga disebabkan oleh kegemilangan Trapp.

Baca Juga:

Gelar Eropa pertama setelah 42 tahun untuk Eintracht Frankfurt

Kevin Trapp berada dalam periode keduanya di Frankfurt setelah tiga musim yang dihabiskan di antara 2015 hingga 2018 sebelum dia hengkang ke Paris Saint-Germain.

Sang penjaga gawang timnas Jerman memberikan trofi pertama kepada Eintracht Frankfurt setelah 42 tahun, gelar Eropa pertama bagi mereka sejak menjuarai Piala UEFA pada musim 1979/1980.

Continue Reading

Champion & UEFA

Lima Manajer Terbaik di Liga Champions

Published

on

By

Liga Champions

Tak diragukan lagi, Liga Champions adalah kompetisi paling elite yang bisa diraih oleh sebuah klub sepak bola Eropa. Banyak nama manajer besar yang saling sikut di kompetisi ini, namun siapa saja lima manajer terbaik sepanjang masa di kompetisi ini?

Lima manajer terbaik di Liga Champions

Sir Alex Ferguson

Sir Alex Ferguson (Image: Manchester Evening News)

Sir Alex Ferguson memiliki persentase kemenangan 54 persen di kompetisi ini. Tidak sebagus para pesaingnya, namun dia merupakan peraih dua trofi Si Kuping Besar.

Dia adalah orang di balik keajaiban yang melibatkan Manchester United dalam laga final pada tahun 1999 silam kontra Bayern Munich.

Dia kemudian meraih trofi keduanya pada tahun 2008 dengan mengalahkan Chelsea lewat adu penalti di final. Meski gagal meraih gelar ketiganya dalam dua kesempatan, yaitu 2009 dan 2011, karena kalah dari Barcelona, namun Sir Alex akan tetap dikenang sebagai salah satu manajer terbaik di Liga Champions.

Jose Mourinho

Jose Mourinho (Image: Getty)

Tak ubahnya Sir Alex, Jose Mourinho juga telah meraih dua trofi Liga Champions di sepanjang kariernya sebagai manajer. Dia memenangkannya bersama FC Porto pada tahun 2004 dan Inter Milan pada 2010.

Mourinho memiliki persentase kemenangan sedikit lebih baik dengan mencatatkan 56,74 persen. Dia menangani enam tim berbeda di kompetisi ini, di antaranya adalah Porto, Chelsea, Inter Milan, Real Madrid, Manchester United, dan Tottenham Hotspur.

Meskipun sinarnya sudah mulai memudar belakangan, namun tak ada yang membantah bahwa dia merupakan salah satu manajer terbaik sejak Liga Champions mengubah formatnya ke sistem modern pada dekade 1990-an.

Baca Juga:

Carlo Ancelotti

Carlo Ancelotti (Image: Real Madrid)

Carlo Ancelotti punya persentase kemenangan 55,74 persen, dengan berhasil meraih tiga trofi bersama AC Milan (2003 dan 2007) dan Real Madrid (2014).

Tahun ini, Don Carlo sedang mengejar trofi keempatnya dengan Los Blancos sukses mencapai partai final untuk menghadapi Liverpool di Paris pada 28 Mei nanti.

Sang juru taktik asal Italia telah menangani delapan klub berbeda di kompetisi ini, dengan Madrid pada dua periode, sedangkan tujuh klub lainnya adalah Parma, Juventus, Milan, Chelsea, PSG, Bayern Munich, dan Napoli.

Pep Guardiola

Pep Guardiola (Image: Goal)

Dianggap sebagai salah satu manajer terjenius sepanjang masa sepak bola, tak ayal jika Pep Guardiola dianggap sebagai manajer terbaik di Liga Champions sepanjang masa.

Dia menangani tiga tim berbeda, yaitu Barcelona, Bayern Munich, dan kini Manchester City, dengan mengenyam catatan 63,19 persen rasio kemenangan.

Pada musim ini, Guardiola memecahkan rekor sebagai manajer yang paling sering tampil di semifinal Liga Champions dengan delapan penampilan. Dua di antaranya berakhir dengan trofi, yang sama-sama diraih bersama Barcelona pada 2009 dan 2011 silam.

Zinedine Zidane

Zinedine Zidane (Image: Getty)

Yang ini tidak perlu dipertanyakan, dalam kariernya yang singkat, Zinedine Zidane menciptakan sejarah dengan mencetak tiga kali keberhasilan meraih trofi Liga Champions pada tahun 2016, 2017, dan 2018.

Ketiganya diraih ketika menangani Real Madrid dengan rasio kemenangan sebesar 60,37 persen. Dia tidak memiliki ciri permainan khusus seperti Guardiola, namun akan menang dengan segala cara.

Namun sayangnya, hingga kini Zizou belum berani menangani tim selain Madrid, dan masih menganggur sejak mengundurkan diri dari Los Blancos pada musim panas tahun 2021 lalu.

Continue Reading

Champion & UEFA

Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Deretan Pemain yang Pernah Cetak Pancagol

Published

on

By

Cristiano Ronaldo

Momen mencetak gol selalu menjadi sesuatu yang spesial, apalagi jika mampu menyarangkan gol lima kali alias pancagol. Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi pernah menjadi para pencetak pancagol dalam satu pertandingan, bersama dengan beberapa pemain berikut ini.

Cristiano Ronaldo, Real Madrid 9-1 Granada (5 April 2015)

Real Madrid sedang berburu gelar juara La Liga pada saat itu, dengan bersaing ketat dengan musuh bebuyutan Barcelona di puncak klasemen sementara pada pekan ke-28.

Hanya empat poin yang membedakan mereka berdua, dan Madrid wajib meraih kemenangan pada saat menjamu Granada di Estadio Santiago Bernabeu pada pekan ke-29.

Cristiano Ronaldo merayakan salah satu golnya ke gawang Granada (Image: Getty)

Ronaldo sudah mencetak hat-trick pada saat jeda turun minum, dengan Madrid unggul 4-0 berkat satu gol lain dari Gareth Bale.

Seusai jeda, Ronaldo menambah dua gol lagi, selagi Karim Benzema turut menyarangkan dua gol dan satu gol lain adalah bunuh diri oleh Diego Mainz.

Lionel Messi, Barcelona 7-1 Bayer Leverkusen (7 Maret 2012)

Tiga tahun sebelum Ronaldo mencetak pancagol, Messi telah lebih dulu melakukannya pada babak 16 besar Liga Champions.

Baca Juga:

Keunggulan 3-1 dari leg pertama tak membuat tim asuhan Pep Guardiola berbelas kasihan pada laga leg kedua di Camp Nou saat itu.

Lionel Messi sudah membuka skor pada menit ke-25, disambung pada menit ke-42. Barca pun menutup babak pertama dengan keunggulan 2-0.

Lionel Messi mencetak gol ke gawang Bayer Leverkusen (Image: Getty)

Setelah jeda turun minum, La Blaugrana malah makin beringas. Messi mencetak gol ketiganya pada menit ke-50 kemudian pada menit ke-58 dan 85 untuk melengkapi catatan lima golnya.

Gol-gol tersebut diselingi oleh dwigol Cristian Tello, selagi gol balasan dari Leverkusen baru tiba pada menit ke-90 melalui Karim Bellarabi.

Robert Lewandowski, Bayern Munich 5-1 Wolfsburg (22 September 2015)

Di tahun yang sama dengan pancagol Cristiano Ronaldo, Robert Lewandowski juga melakukannya untuk Bayern Munich di awal musim 2015/2016.

Bayern tertinggal oleh gol Daniel Caligiuri pada menit ke-26 pada saat itu. Pep Guardiola baru memasukkan Lewandowski dari bangku cadangan pada pergantian babak.

Robert Lewandowski ketika mencetak gol ke gawang Wolfsburg (Image: Getty)

Enam menit setelah babak kedua bergulir, Lewandowski sudah menyeimbangkan skor untuk Die Bavaria. Dia kemudian menggila dari sana, dengan mencetak empat gol lainnya dalam kurun waktu sembilan menit saja.

Pada akhirnya, Bayern menang dengan skor 5-1 dan menutup spieltag keenam Bundesliga sebagai pemuncak klasemen sementara, hasil dari raihan 18 poin dari enam pertandingan.

Sergio Aguero, Manchester City 6-1 Newcastle United (3 Oktober 2015)

2015 nampaknya menjadi tahunnya para pemain sepak bola mencetak lima gol dalam satu pertandingan, dengan Sergio Aguero turut melakukannya untuk Manchester City ketika menjamu Newcastle United di Etihad Stadium pada gameweek kedelapan musim 2015/2016.

The Cityzens dibuat ketar-ketir terlebih dulu dengan Aleksandar Mitrovic sudah mencetak gol untuk The Magpies. Namun Aguero mencetak gol penyeimbang sebelum jeda turun minum.

Sergio Aguero mengelabui Tim Krul dalam salah satu golnya ke gawang Newcastle (Image: Getty)

Di babak kedua, City menggila dengan mencetak tiga gol dalam delapan menit pertama, dua di antaranya disumbangkan oleh Aguero, sedangkan satu gol lain oleh Kevin De Bruyne.

Sang striker timnas Argentina sudah mengukir hat-trick pada titik itu, namun kemudian menambah dua gol lagi pada menit ke-60 dan ke-62 untuk memastikan kemenangan City menjadi 6-1.

Continue Reading

Trending