Connect with us

Featured

Pendapat Allegri Untuk Serie A Musim 2021-2022

Published

on

Flygoal.com – Pelatih Juventus, Massimiliano Allegri dikabarkan telah memberikan pendapatnya mengenai persaingan meraih scudetto dalam Serie A musim 2021-2022 mendatang. Allegri disebut-disebut menyebutkan bahwa setidaknya akan ada 6 tim yang akan bersaing untuk menjadi juara liga, dengan Inter Milan difavoritkan kembali menjadi juara.

Juventus, yang telah menjadi pemenang Serie A selama beberapa musim terakhir harus rela mengakhiri musim 2020-2021 kemarin dengan tidak menjadi juara. Pada saat itu, mereka dilatih oleh mantan pemain mereka sendiri, Andrea Pirlo yang gagal untuk meneruskan rangkaian peraihan juara klub akibat Inter Milan yang menempati posisi pertama dengan 91 poin, 13 poin lebih banyak dibandingkan dengan Juventus yang pada saat itu hanya puas mendapatkan peringkat keempat.

Akibat dari hasil liga tersebut, Andrea Pirlo tidak lagi menjadi pelatih untuk musim 2021-2022 yang akan segera datang dan Juventus memanggil kembali Allegri yang notabene merupakan pelatih lama mereka untuk mencoba merebut kembali scudetto dari tangan tim yang kini dilatih oleh Simone Inzaghi tersebut.

Allegri sendiri sudah mencatatkan rekor bagus untuk tim yang bermarkas di Juventus Stadium tersebut. Sejak tahun 2014 hingga tahun 2019, Allegri selalu menjadikan Bianconeri menjadi juara Serie A selama 5 kali dan berhasil mendapatkan Coppa Italia. Namun, jelang musim ini, Allegri tampak waspada akan tim-tim kuat yang akan bermain di musim berikutnya.

Allegri mengatakan, “Banyak pelatih penting yang kembali. (Luciano) Spalletti ke Napoli, (Jose) Mourinho ke Roma, (Maurizio) Sarri ke Lazio. Inter Milan merupakan favoritnya karena mereka memenangi musim lalu, kami perlu memulai jalan  untuk memenangi gelar juara.”

“Musim ini akan berjalan dengan sulit, Milan sudah meningkat sehingga pemain muda mereka berarti telah memiliki tambahan pengalaman setahun, mereka di antara tim-tim favorit dengan Roma, Lazio, dan Napoli.”

Featured

Senang Menyendiri Menjadi Tanda Orang Cerdas, Kok Bisa?

Published

on

By

senang menyendiri

Kebiasaan senang menyendiri bukanlah menjadi hal yang buruk, melainkan salah satu pertanda bahwa Anda adalah orang yang cerdas.

Berdasarkan studi yang dilakukan di British Journal of Psychology pada tahun 2016, yang dikutip dari laman National Geographic menjelaskan, kebanyakan orang merasa puas dan bahagia bila memiliki banyak teman, kecuali Anda adalah orang cerdas di atas IQ rata-rata.

Baca Juga:

Rasa senang menyendiri timbul akibat kecerdasan evolusi

Ilustrasi rasa senang menyendiri (Unsplash/Rifky Nur Setyadi)

Orang yang cerdas biasanya menginginkan pertemanan yang berkualitas. Sehingga, tak jarang orang cerdas terlihat lebih selektif dalam berteman atau bahkan lebih senang menyendiri.

Kendati demikian, menurut dua peneliti yaitu Normal Li dari School of Social Sciences, Singapore Management University, dan Satoshi Kanazawa di London School of Economic and Political Science, Inggris, kecerdasan evolusi menjadi dasar munculnya rasa senang untuk menyendiri.

“Analisis data ini mengungkapkan bahwa berada di sekitar kerumunan orang yang padat biasanya menyebabkan ketidakbahagiaan, sementara bersosialisasi dengan teman biasanya mengarah pada kebahagiaan—yaitu, kecuali orang tersebut sangat cerdas,” tulis para peneliti.

Individu cerdas lebih mementingkan bersosialisasi dari persahabatan

Ilustrasi (Unsplash/Geoffroy Hauwen)

Ketika memiliki suatu sirkel pertemanan, mereka cenderung hanya bergaul dengan segerombolan yang itu-itu saja. Sementara itu, orang cerdas akan mengesampingkan hal itu.

Menurut para peneliti, orang yang cerdas condong mengesampingkan sirkel pertemanan dan lebih memilih bersosialisasi lebih sering daripada orang yang cerdas.

Sehingga, wajar saja orang cerdas lebih memilih senang menyendiri karena terkadang sangat sedikit orang yang bisa berbagi dengan apa yang dirinya ketahui. Menurutnya, persahabatan yang baik bukanlah tentang kuantitas melainkan kuantitas.

Continue Reading

Featured

Rekomendasi Buku Self Improvement untuk Hadapi Kegalauan dalam Hidup

Published

on

By

Rekomendasi buku self improvement

Kegalauan adalah hal yang manusiawi. Siapa pun pasti pernah merasakan ketidakpastian dan merasa galau karenanya. Kadang untuk menghadapinya, yang kita perlukan adalah buku. Ini adalah rekomendasi buku self improvement yang bisa membantu Anda menghadapi kegalauan dalam hidup.

Entah karena merasa hidup tidak sempurna atau kisah cinta, pada suatu waktu dalam hidup kita pasti akan menghadapi situasi ini.

Bagaimanapun, yang dirasakan oleh kita pada saat galau adalah suatu hal yang sementara, namun hidup akan tetap berjalan dengan sebagaimana mestinya.

Yang bisa dilakukan dalam periode ini adalah meningkatkan kualitas diri, atau self improvement. Buku-buku yang akan dibahas di sini bisa membantu Anda untuk meraihnya.

Baca Juga:

3 Rekomendasi Buku Self Improvement

1. Filosofi Teras oleh Henry Manampiring

Filosofi Teras (Image: Gramedia)

Jika mendengar kata filosofi atau filsafat, kita kadang sudah merasa ruwet duluan. Namun tenang saja, Henry Manampiring adalah seorang praktisi periklanan dan komunikasi, bukan seorang filsuf.

Dia memahami filsafat Stoikisme dan menyajikannya dalam buku Filosofi Teras dalam bahasa yang bisa dengan mudah dipahami oleh masyarakat pada umumnya.

Ini adalah buku yang bisa mengasah mental untuk para Milenial dan Gen Z yang sedang mengalami berbagai masalah sehari-hari dalam kehidupan.

2. Berani Tidak Disukai oleh Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga

Berani TIdak Disukai (Image: Gramedia)

Ini adalah buku keluaran Jepang yang menyebarkan ajaran seorang psikolog asal Austria bernama Alfred Adler yang membahas tentang fenomena modern di Jepang semacam mengisolasi diri di kamar.

Terisolasi pada usia dewasa adalah fenomena global, tak hanya di Jepang. Buku Berani Tidak Disukai merupakan tentang cara kita mencintai diri sendiri dengan tujuan untuk meraih kebahagiaan.

Seperti judulnya, sering kali kita mengabaikan apa yang diinginkan oleh diri sendiri karena mendengarkan apa kata orang. Berani Tidak Disukai adalah tentang menjadi diri sendiri.

3. Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat oleh Mark Manson

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (Image: Gramedia)

Buku yang bisa memberi dampak ajaib bagi para pembacanya. Mark Manson membantu menyadarkan pembacanya agar tidak terlalu memikirkan banyak hal secara berlebihan. Bukankah overthinking adalah penyakit yang menjangkiti banyak anak muda di masa kini?

Sama halnya seperti Henry Manampiring, Manson mengambil pendekatan Stoikisme dalam buku ini. Filsafat namun tidak runyam untuk dikunyah.

Continue Reading

Champion & UEFA

Lima Manajer Terbaik di Liga Champions

Published

on

By

Liga Champions

Tak diragukan lagi, Liga Champions adalah kompetisi paling elite yang bisa diraih oleh sebuah klub sepak bola Eropa. Banyak nama manajer besar yang saling sikut di kompetisi ini, namun siapa saja lima manajer terbaik sepanjang masa di kompetisi ini?

Lima manajer terbaik di Liga Champions

Sir Alex Ferguson

Sir Alex Ferguson (Image: Manchester Evening News)

Sir Alex Ferguson memiliki persentase kemenangan 54 persen di kompetisi ini. Tidak sebagus para pesaingnya, namun dia merupakan peraih dua trofi Si Kuping Besar.

Dia adalah orang di balik keajaiban yang melibatkan Manchester United dalam laga final pada tahun 1999 silam kontra Bayern Munich.

Dia kemudian meraih trofi keduanya pada tahun 2008 dengan mengalahkan Chelsea lewat adu penalti di final. Meski gagal meraih gelar ketiganya dalam dua kesempatan, yaitu 2009 dan 2011, karena kalah dari Barcelona, namun Sir Alex akan tetap dikenang sebagai salah satu manajer terbaik di Liga Champions.

Jose Mourinho

Jose Mourinho (Image: Getty)

Tak ubahnya Sir Alex, Jose Mourinho juga telah meraih dua trofi Liga Champions di sepanjang kariernya sebagai manajer. Dia memenangkannya bersama FC Porto pada tahun 2004 dan Inter Milan pada 2010.

Mourinho memiliki persentase kemenangan sedikit lebih baik dengan mencatatkan 56,74 persen. Dia menangani enam tim berbeda di kompetisi ini, di antaranya adalah Porto, Chelsea, Inter Milan, Real Madrid, Manchester United, dan Tottenham Hotspur.

Meskipun sinarnya sudah mulai memudar belakangan, namun tak ada yang membantah bahwa dia merupakan salah satu manajer terbaik sejak Liga Champions mengubah formatnya ke sistem modern pada dekade 1990-an.

Baca Juga:

Carlo Ancelotti

Carlo Ancelotti (Image: Real Madrid)

Carlo Ancelotti punya persentase kemenangan 55,74 persen, dengan berhasil meraih tiga trofi bersama AC Milan (2003 dan 2007) dan Real Madrid (2014).

Tahun ini, Don Carlo sedang mengejar trofi keempatnya dengan Los Blancos sukses mencapai partai final untuk menghadapi Liverpool di Paris pada 28 Mei nanti.

Sang juru taktik asal Italia telah menangani delapan klub berbeda di kompetisi ini, dengan Madrid pada dua periode, sedangkan tujuh klub lainnya adalah Parma, Juventus, Milan, Chelsea, PSG, Bayern Munich, dan Napoli.

Pep Guardiola

Pep Guardiola (Image: Goal)

Dianggap sebagai salah satu manajer terjenius sepanjang masa sepak bola, tak ayal jika Pep Guardiola dianggap sebagai manajer terbaik di Liga Champions sepanjang masa.

Dia menangani tiga tim berbeda, yaitu Barcelona, Bayern Munich, dan kini Manchester City, dengan mengenyam catatan 63,19 persen rasio kemenangan.

Pada musim ini, Guardiola memecahkan rekor sebagai manajer yang paling sering tampil di semifinal Liga Champions dengan delapan penampilan. Dua di antaranya berakhir dengan trofi, yang sama-sama diraih bersama Barcelona pada 2009 dan 2011 silam.

Zinedine Zidane

Zinedine Zidane (Image: Getty)

Yang ini tidak perlu dipertanyakan, dalam kariernya yang singkat, Zinedine Zidane menciptakan sejarah dengan mencetak tiga kali keberhasilan meraih trofi Liga Champions pada tahun 2016, 2017, dan 2018.

Ketiganya diraih ketika menangani Real Madrid dengan rasio kemenangan sebesar 60,37 persen. Dia tidak memiliki ciri permainan khusus seperti Guardiola, namun akan menang dengan segala cara.

Namun sayangnya, hingga kini Zizou belum berani menangani tim selain Madrid, dan masih menganggur sejak mengundurkan diri dari Los Blancos pada musim panas tahun 2021 lalu.

Continue Reading

Trending