Connect with us

Sports

Shakedown Test Hari Terakhir di Sepang Usai, Vinales yang Terkencang

Published

on

Shakedown Test

Shakedown Test MotoGP hari terakhir yang diselenggarakan pada Rabu (2/2/2022) di Sirkuit Sepang, Malaysia telah usai. Setelah digelar selama tiga hari, hari terakhir ditutup dengan tim Aprilia yang memiliki catatan waktu (laptime) tercepat dalam pengetesan.

Tujuan dari digelarnya Shakedown Test ini adalah untuk mengetahui kekuatan dari motor yang akan digunakan untuk mengarungi musim MotoGP yang akan berlangsung. Dari tiga hari pengetasan yang dilakukan, terlihat catatan kecepatan maksimum yang berbeda dari setiap pabrikan.

Namun bukan berarti kecepatan motor tidak maksimal, bisa saja hal ini dikarenakan para rider dalam pengetasan ini merupakan pembalap ‘test driver’ atau bukan pembalap utama masing-masing tim. Ketika tes pra-musim baru lah para rider andalan masing-masing tim akan ikut mengetes kekuatan motor masing-masing pabrikan.

Meskipun begitu ajang Shakedown Test dapat menjadi tahapan pemetaan awal kekuatan musuh bagi tim-tim yang akan bersaing dalam memperbutkan gelar juara di MotoGP 2022 nanti.

Baca juga:

Dikutip dari Crash.net Rabu (2/2/2022), di hari ketiga pengetesan pada Maverick Vinales berhasil mencatatkan waktu tercepat, dengan catatan waktu 1 menit 58,942 menit. Disusul rekan satu timnya di Aprilia Racing Team, Aleix Espargaro yang hanya kalah cepat 0,144 detik.

Sebagai catatan, dalam Shakedown Test ini hanya tim Aprilia yang menurunkan pembalap utama mereka, berbeda dengan tim lain yang hanya menurunkan pembalap ‘test driver’ dalam pengetesan tersebut. Aprilia diperbolehkan menurunkan pembalap utamanya karena masih berstatus sebagai tim konsesi.

Untuk urusan top speed tim Aprilia juga masih unggul dari tim lainnya. Vinales dan Aleix yang menunggangi RS-GP, berhasil mencapai 334,4 kilometer per jam. Di urutan kedua, motor Desmosedici GP21 yang ditunggangi pembalap rookie Ducati, Marco Bezzecchi berhasil mencapai kecepatan 333,3 kilometer per jam.

Sementara itu Yamaha menjadi tim dengan catatan top speed terendah. Para test rider tim Yamaha, yakni Cal Crutchlow, Katsuyuki Nakasuga, dan Kota Nozane yang menunggangi Yamahi YZR-M1 hanya mampu mencatatkan kecepatan 324,3 kilometer per jam.

Liga Italia

Menerka Pengganti Giorgio Chiellini di Juventus Musim Depan

Published

on

By

Giorgio Chiellini

Setelah partai final Coppa Italia, Kamis (12/5) dini hari WIB lalu, Giorgio Chiellini memastikan diri bakal meninggalkan Juventus pada bursa transfer musim panas mendatang.

“Pada hari Senin, saya akan mengucapkan perpisahan kepada Juventus Stadium, kemudian jika masih punya energi, maka saya akan bermain di Florence [untuk laga penutup musim Serie A kontra Fiorentina],” kata Chiellini, dikutip dari Football-Italia.

Sang kapten telah menjadi pemain andalan Bianconeri di jantung pertahanan selama 17 tahun terakhir, dan menggantikannya bukanlah persoalan mudah, terlebih karena dia juga merupakan pemimpin di ruang ganti.

Baca Juga:

Para kandidat pengganti Giorgio Chiellini

Kepergiannya pada musim panas nanti memang sudah diantisipasi. Oleh karena itu, kabar mengenai Juventus mencari bek tengah baru untuk bursa transfer nanti sudah banyak bersliweran.

Alessio Romagnoli dan Nikola Milenkovic adalah dua nama lama bek tengah yang sering dikaitkan dengan Juventus.

Kontrak Romagnoli akan habis bersama Milan pada musim panas ini, sedangkan Milenkovic hanya diikat oleh Fiorentina hingga Juni 2023 mendatang.

Nikola Milenkovic (Image: Getty)

Keduanya bisa menjadi pengganti yang tepat untuk Chiellini di Juventus, terutama karena sudah punya pengalaman bermain di Serie A, jadi diharapkan tidak memerlukan waktu lama untuk beradaptasi.

Namun, Juve juga perlu mempertimbangkan Gleison Bremer, bek tengah asal Brasil yang tampil fenomenal bersama Torino pada musim ini.

Gleison Bremer (Image: Getty)

Kegemilangan pemain berusia 25 tahun itu telah membuat Manchester United dan juga Inter Milan dikabarkan kepincut menjelang bursa transfer musim panas.

Selain itu, Juventus juga memiliki opsi untuk mengandalkan pemain muda kepunyaan mereka, Federico Gatti, yang sedang menjalani masa pinjaman bersama Frosinone di Serie B.

Gatti direkrut oleh Si Nyonya Tua pada bursa transfer Januari tahun ini namun diizinkan untuk menghabiskan masa pinjaman hingga musim ini berakhir bersama Frosinone.

Federico Gatti direkrut pada Januari 2022 (Image: Juventus)

Sang pemain berusia 23 tahun dikontrak hingga 2026 dan berpotensi untuk ambil bagian bersama tim senior Juve pada musim depan.

Dari luar Italia, Juventus juga dikabarkan tertarik untuk meminang Gabriel Magalhaes dari Arsenal dan Benoit Badiashile dari AS Monaco.

Continue Reading

Champion & UEFA

Lima Manajer Terbaik di Liga Champions

Published

on

By

Liga Champions

Tak diragukan lagi, Liga Champions adalah kompetisi paling elite yang bisa diraih oleh sebuah klub sepak bola Eropa. Banyak nama manajer besar yang saling sikut di kompetisi ini, namun siapa saja lima manajer terbaik sepanjang masa di kompetisi ini?

Lima manajer terbaik di Liga Champions

Sir Alex Ferguson

Sir Alex Ferguson (Image: Manchester Evening News)

Sir Alex Ferguson memiliki persentase kemenangan 54 persen di kompetisi ini. Tidak sebagus para pesaingnya, namun dia merupakan peraih dua trofi Si Kuping Besar.

Dia adalah orang di balik keajaiban yang melibatkan Manchester United dalam laga final pada tahun 1999 silam kontra Bayern Munich.

Dia kemudian meraih trofi keduanya pada tahun 2008 dengan mengalahkan Chelsea lewat adu penalti di final. Meski gagal meraih gelar ketiganya dalam dua kesempatan, yaitu 2009 dan 2011, karena kalah dari Barcelona, namun Sir Alex akan tetap dikenang sebagai salah satu manajer terbaik di Liga Champions.

Jose Mourinho

Jose Mourinho (Image: Getty)

Tak ubahnya Sir Alex, Jose Mourinho juga telah meraih dua trofi Liga Champions di sepanjang kariernya sebagai manajer. Dia memenangkannya bersama FC Porto pada tahun 2004 dan Inter Milan pada 2010.

Mourinho memiliki persentase kemenangan sedikit lebih baik dengan mencatatkan 56,74 persen. Dia menangani enam tim berbeda di kompetisi ini, di antaranya adalah Porto, Chelsea, Inter Milan, Real Madrid, Manchester United, dan Tottenham Hotspur.

Meskipun sinarnya sudah mulai memudar belakangan, namun tak ada yang membantah bahwa dia merupakan salah satu manajer terbaik sejak Liga Champions mengubah formatnya ke sistem modern pada dekade 1990-an.

Baca Juga:

Carlo Ancelotti

Carlo Ancelotti (Image: Real Madrid)

Carlo Ancelotti punya persentase kemenangan 55,74 persen, dengan berhasil meraih tiga trofi bersama AC Milan (2003 dan 2007) dan Real Madrid (2014).

Tahun ini, Don Carlo sedang mengejar trofi keempatnya dengan Los Blancos sukses mencapai partai final untuk menghadapi Liverpool di Paris pada 28 Mei nanti.

Sang juru taktik asal Italia telah menangani delapan klub berbeda di kompetisi ini, dengan Madrid pada dua periode, sedangkan tujuh klub lainnya adalah Parma, Juventus, Milan, Chelsea, PSG, Bayern Munich, dan Napoli.

Pep Guardiola

Pep Guardiola (Image: Goal)

Dianggap sebagai salah satu manajer terjenius sepanjang masa sepak bola, tak ayal jika Pep Guardiola dianggap sebagai manajer terbaik di Liga Champions sepanjang masa.

Dia menangani tiga tim berbeda, yaitu Barcelona, Bayern Munich, dan kini Manchester City, dengan mengenyam catatan 63,19 persen rasio kemenangan.

Pada musim ini, Guardiola memecahkan rekor sebagai manajer yang paling sering tampil di semifinal Liga Champions dengan delapan penampilan. Dua di antaranya berakhir dengan trofi, yang sama-sama diraih bersama Barcelona pada 2009 dan 2011 silam.

Zinedine Zidane

Zinedine Zidane (Image: Getty)

Yang ini tidak perlu dipertanyakan, dalam kariernya yang singkat, Zinedine Zidane menciptakan sejarah dengan mencetak tiga kali keberhasilan meraih trofi Liga Champions pada tahun 2016, 2017, dan 2018.

Ketiganya diraih ketika menangani Real Madrid dengan rasio kemenangan sebesar 60,37 persen. Dia tidak memiliki ciri permainan khusus seperti Guardiola, namun akan menang dengan segala cara.

Namun sayangnya, hingga kini Zizou belum berani menangani tim selain Madrid, dan masih menganggur sejak mengundurkan diri dari Los Blancos pada musim panas tahun 2021 lalu.

Continue Reading

Champion & UEFA

Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, dan Deretan Pemain yang Pernah Cetak Pancagol

Published

on

By

Cristiano Ronaldo

Momen mencetak gol selalu menjadi sesuatu yang spesial, apalagi jika mampu menyarangkan gol lima kali alias pancagol. Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi pernah menjadi para pencetak pancagol dalam satu pertandingan, bersama dengan beberapa pemain berikut ini.

Cristiano Ronaldo, Real Madrid 9-1 Granada (5 April 2015)

Real Madrid sedang berburu gelar juara La Liga pada saat itu, dengan bersaing ketat dengan musuh bebuyutan Barcelona di puncak klasemen sementara pada pekan ke-28.

Hanya empat poin yang membedakan mereka berdua, dan Madrid wajib meraih kemenangan pada saat menjamu Granada di Estadio Santiago Bernabeu pada pekan ke-29.

Cristiano Ronaldo merayakan salah satu golnya ke gawang Granada (Image: Getty)

Ronaldo sudah mencetak hat-trick pada saat jeda turun minum, dengan Madrid unggul 4-0 berkat satu gol lain dari Gareth Bale.

Seusai jeda, Ronaldo menambah dua gol lagi, selagi Karim Benzema turut menyarangkan dua gol dan satu gol lain adalah bunuh diri oleh Diego Mainz.

Lionel Messi, Barcelona 7-1 Bayer Leverkusen (7 Maret 2012)

Tiga tahun sebelum Ronaldo mencetak pancagol, Messi telah lebih dulu melakukannya pada babak 16 besar Liga Champions.

Baca Juga:

Keunggulan 3-1 dari leg pertama tak membuat tim asuhan Pep Guardiola berbelas kasihan pada laga leg kedua di Camp Nou saat itu.

Lionel Messi sudah membuka skor pada menit ke-25, disambung pada menit ke-42. Barca pun menutup babak pertama dengan keunggulan 2-0.

Lionel Messi mencetak gol ke gawang Bayer Leverkusen (Image: Getty)

Setelah jeda turun minum, La Blaugrana malah makin beringas. Messi mencetak gol ketiganya pada menit ke-50 kemudian pada menit ke-58 dan 85 untuk melengkapi catatan lima golnya.

Gol-gol tersebut diselingi oleh dwigol Cristian Tello, selagi gol balasan dari Leverkusen baru tiba pada menit ke-90 melalui Karim Bellarabi.

Robert Lewandowski, Bayern Munich 5-1 Wolfsburg (22 September 2015)

Di tahun yang sama dengan pancagol Cristiano Ronaldo, Robert Lewandowski juga melakukannya untuk Bayern Munich di awal musim 2015/2016.

Bayern tertinggal oleh gol Daniel Caligiuri pada menit ke-26 pada saat itu. Pep Guardiola baru memasukkan Lewandowski dari bangku cadangan pada pergantian babak.

Robert Lewandowski ketika mencetak gol ke gawang Wolfsburg (Image: Getty)

Enam menit setelah babak kedua bergulir, Lewandowski sudah menyeimbangkan skor untuk Die Bavaria. Dia kemudian menggila dari sana, dengan mencetak empat gol lainnya dalam kurun waktu sembilan menit saja.

Pada akhirnya, Bayern menang dengan skor 5-1 dan menutup spieltag keenam Bundesliga sebagai pemuncak klasemen sementara, hasil dari raihan 18 poin dari enam pertandingan.

Sergio Aguero, Manchester City 6-1 Newcastle United (3 Oktober 2015)

2015 nampaknya menjadi tahunnya para pemain sepak bola mencetak lima gol dalam satu pertandingan, dengan Sergio Aguero turut melakukannya untuk Manchester City ketika menjamu Newcastle United di Etihad Stadium pada gameweek kedelapan musim 2015/2016.

The Cityzens dibuat ketar-ketir terlebih dulu dengan Aleksandar Mitrovic sudah mencetak gol untuk The Magpies. Namun Aguero mencetak gol penyeimbang sebelum jeda turun minum.

Sergio Aguero mengelabui Tim Krul dalam salah satu golnya ke gawang Newcastle (Image: Getty)

Di babak kedua, City menggila dengan mencetak tiga gol dalam delapan menit pertama, dua di antaranya disumbangkan oleh Aguero, sedangkan satu gol lain oleh Kevin De Bruyne.

Sang striker timnas Argentina sudah mengukir hat-trick pada titik itu, namun kemudian menambah dua gol lagi pada menit ke-60 dan ke-62 untuk memastikan kemenangan City menjadi 6-1.

Continue Reading

Trending