Connect with us

Terkini

Ganjil-Genap Bukan Solusi Hadapi Varian Omicron

Published

on

varian omicron

Kasus harian COVID-19 melonjak akibat varian Omicron yang semakin meluas, terutama di kawasan Jakarta menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena harus beraktivitas di luar. Peraturan ganjil-genap kendaraan bermotor dianggap bukan menjadi solusi tepat menangani COVID-19.

Edison Siahaan Ketua Presidium Indonesia Traffic Watch (ITW) menyebut, kebijakan ganjil genap di tengah situasi COVID yang mengganas karena varian omicron sangat tidak efektif.

“Ini juga sekaligus tidak sebangun dengan kebijakan yang lebih urgent yaitu menyelamatkan jiwa manusia dari pandemi virus COVID-19. Di mana setiap orang diminta untuk disiplin menjalankan prokes [protokol kesehatan], satu di antaranya sosial distancing alias jaga jarak,” kata Edison, dikutip dari detikcom, Kamis (3/2/2022).

Menurutnya, kebijakan ganjil genap memaksa orang untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. Hal itu berpotensi menimbulkan kerumunan di terminal, stasiun dan halte-halte.

“Sayangnya, Pemprov DKI tidak cepat merespon kondisi nyata yang sedang terjadi yaitu lonjakan kasus positif COVID harian. Apalagi tidak ada jaminan untuk tdk berdesak-desakan saat menggunakan transportasi angkutan umum. Karena nyaris semua angkutan umum penuh sesak terutama saat jam- jam sibuk,” sebutnya.

Baca Juga:

Pemprov DKI Jakarta mengklaim pemberlakuan kebijakan ganjil genap bukan untuk memindahkan mobilitas masyarakat dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi umum saat pandemi. Namun, ganjil genap ini disebut agar masyarakat bisa mengurangi mobilitas di tengah pandemi COVID-19.

Meskipun demikian, Edison menilai pernyataan Pemprov DKI Jakarta itu keliru. Dia bilang, masyarakat akan tetap bepergian menggunakan transportasi umum saat pelat nomor kendaraannya tidak sesuai dengan tanggal ganjil/genap.

“Justru logika berpikirnya Pemprov DKI agak lucu. Sebab, pemilik kendaraan yang bernomor ganjil akan menggunakan kendaraan angkutan umum saat tanggal genap untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Sebaliknya yang genap juga begitu. Lalu apakah Pemprov DKI ingin supaya warga tidak menjalankan aktivitas?” kata Edison.

“Dasar kebijakan gage (ganjil genap) itu untuk mengurangi kendaraan yang sangat jelas memicu kemacetan di jalan raya. Artinya kemacetan tidak terjadi kalau aktivitas dengan berjalan kaki. Nah mobilitas yang mana maksud Pemprov DKI?” sambungnya.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Featured

Senang Menyendiri Menjadi Tanda Orang Cerdas, Kok Bisa?

Published

on

By

senang menyendiri

Kebiasaan senang menyendiri bukanlah menjadi hal yang buruk, melainkan salah satu pertanda bahwa Anda adalah orang yang cerdas.

Berdasarkan studi yang dilakukan di British Journal of Psychology pada tahun 2016, yang dikutip dari laman National Geographic menjelaskan, kebanyakan orang merasa puas dan bahagia bila memiliki banyak teman, kecuali Anda adalah orang cerdas di atas IQ rata-rata.

Baca Juga:

Rasa senang menyendiri timbul akibat kecerdasan evolusi

Ilustrasi rasa senang menyendiri (Unsplash/Rifky Nur Setyadi)

Orang yang cerdas biasanya menginginkan pertemanan yang berkualitas. Sehingga, tak jarang orang cerdas terlihat lebih selektif dalam berteman atau bahkan lebih senang menyendiri.

Kendati demikian, menurut dua peneliti yaitu Normal Li dari School of Social Sciences, Singapore Management University, dan Satoshi Kanazawa di London School of Economic and Political Science, Inggris, kecerdasan evolusi menjadi dasar munculnya rasa senang untuk menyendiri.

“Analisis data ini mengungkapkan bahwa berada di sekitar kerumunan orang yang padat biasanya menyebabkan ketidakbahagiaan, sementara bersosialisasi dengan teman biasanya mengarah pada kebahagiaan—yaitu, kecuali orang tersebut sangat cerdas,” tulis para peneliti.

Individu cerdas lebih mementingkan bersosialisasi dari persahabatan

Ilustrasi (Unsplash/Geoffroy Hauwen)

Ketika memiliki suatu sirkel pertemanan, mereka cenderung hanya bergaul dengan segerombolan yang itu-itu saja. Sementara itu, orang cerdas akan mengesampingkan hal itu.

Menurut para peneliti, orang yang cerdas condong mengesampingkan sirkel pertemanan dan lebih memilih bersosialisasi lebih sering daripada orang yang cerdas.

Sehingga, wajar saja orang cerdas lebih memilih senang menyendiri karena terkadang sangat sedikit orang yang bisa berbagi dengan apa yang dirinya ketahui. Menurutnya, persahabatan yang baik bukanlah tentang kuantitas melainkan kuantitas.

Continue Reading

Featured

Rekomendasi Buku Self Improvement untuk Hadapi Kegalauan dalam Hidup

Published

on

By

Rekomendasi buku self improvement

Kegalauan adalah hal yang manusiawi. Siapa pun pasti pernah merasakan ketidakpastian dan merasa galau karenanya. Kadang untuk menghadapinya, yang kita perlukan adalah buku. Ini adalah rekomendasi buku self improvement yang bisa membantu Anda menghadapi kegalauan dalam hidup.

Entah karena merasa hidup tidak sempurna atau kisah cinta, pada suatu waktu dalam hidup kita pasti akan menghadapi situasi ini.

Bagaimanapun, yang dirasakan oleh kita pada saat galau adalah suatu hal yang sementara, namun hidup akan tetap berjalan dengan sebagaimana mestinya.

Yang bisa dilakukan dalam periode ini adalah meningkatkan kualitas diri, atau self improvement. Buku-buku yang akan dibahas di sini bisa membantu Anda untuk meraihnya.

Baca Juga:

3 Rekomendasi Buku Self Improvement

1. Filosofi Teras oleh Henry Manampiring

Filosofi Teras (Image: Gramedia)

Jika mendengar kata filosofi atau filsafat, kita kadang sudah merasa ruwet duluan. Namun tenang saja, Henry Manampiring adalah seorang praktisi periklanan dan komunikasi, bukan seorang filsuf.

Dia memahami filsafat Stoikisme dan menyajikannya dalam buku Filosofi Teras dalam bahasa yang bisa dengan mudah dipahami oleh masyarakat pada umumnya.

Ini adalah buku yang bisa mengasah mental untuk para Milenial dan Gen Z yang sedang mengalami berbagai masalah sehari-hari dalam kehidupan.

2. Berani Tidak Disukai oleh Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga

Berani TIdak Disukai (Image: Gramedia)

Ini adalah buku keluaran Jepang yang menyebarkan ajaran seorang psikolog asal Austria bernama Alfred Adler yang membahas tentang fenomena modern di Jepang semacam mengisolasi diri di kamar.

Terisolasi pada usia dewasa adalah fenomena global, tak hanya di Jepang. Buku Berani Tidak Disukai merupakan tentang cara kita mencintai diri sendiri dengan tujuan untuk meraih kebahagiaan.

Seperti judulnya, sering kali kita mengabaikan apa yang diinginkan oleh diri sendiri karena mendengarkan apa kata orang. Berani Tidak Disukai adalah tentang menjadi diri sendiri.

3. Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat oleh Mark Manson

Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (Image: Gramedia)

Buku yang bisa memberi dampak ajaib bagi para pembacanya. Mark Manson membantu menyadarkan pembacanya agar tidak terlalu memikirkan banyak hal secara berlebihan. Bukankah overthinking adalah penyakit yang menjangkiti banyak anak muda di masa kini?

Sama halnya seperti Henry Manampiring, Manson mengambil pendekatan Stoikisme dalam buku ini. Filsafat namun tidak runyam untuk dikunyah.

Continue Reading

Featured

Kenali Speech-Delay, Permasalahan yang Sering Ditemui pada Anak

Published

on

By

Speech-Delay

Anak usia tiga bulan biasanya sudah mulai belajar berbicara. Ini merupakan salah satu fase yang penting bagi perkembangan anak.

Pada usia ini, anak akan mulai bereaksi pada ekpsresi orang di sekitarnya.

Namun, terdapat beberapa kasus ketika anak terlihat kesulitan untuk menyampaikan apa yang diinginkan dalam bentuk verbal meski sudah menginjak usia hampir dua tahun.

Kondisi inilah yang biasa disebut dengan speech-delay atau keterlambatan berbicara.

Terdapat beberapa hal yang diduga dapat menyebabkan speech-delay, dan alangkah baiknya kita mengetahui lebih banyak lagi agar bisa mendeteksi dini ketika anak kita terlihat memiliki keterlambatan berbicara.

Menurut Psikolog Dewi Retno, ada dua aspek yang menyebabkan terjadinya keterlambatan berbicara, yaitu aspek klinis dan aspek pengasuhan.

“Aspek klinis dimulai dari anak dalam kandungan sampai awal kelahiran. Misalnya, ada gangguan selama kehamilan, lahir prematur, mengalami kejang atau berat badan lahir bayi kurang, dan sebagainya,” ujar Retno.

Baca Juga:

Sementara aspek pengasuhan biasanya terjadi selamam proses mengasuh anak tersebut. Biasanya karena kurang stimulasi berbicara selama proses mengasuh.

Terkadang, orang tua atau pengasuh cenderung memberikan gadget dan membiarkan anak menonton televisi sendirian agar dia tetap diam.

Cara mencegah speech-delay

Retno menyampaikan bahwa mencegah speech-delay pada anak dapat dilakukan oleh orang tua dengan beberapa cara. Salah satunya menjaga kondisi kandungan saat fase hamil. Kondisi ibu tidak boleh stres dan harus memperhatikan makanan yang dikonsumsi.

Lalu untuk memberikan stimulasi pada anak, pengasuh diharap dapat terus berbicara dan berinteraksi dengan si anak agar ia bisa mendengar dan kemudian menirukan suara.

 

Continue Reading

Trending