Connect with us

Terkini

Obesitas Mungkin Perlemah Perlindungan Vaksin Terhadap COVID-19

Published

on

Obesitas

Dilansir dari The Jakarta Post, sebuah hasil penelitian di Turki mengungkap bahwa obesitas parah mungkin akan mengurangi efektivitas vaksin dalam melawan COVID-19.

Pasien COVID-19 (Image: Science)

Studi tersebut mempelajari mereka yang tidak pernah terinfeksi virus SARS-CoV-2 dan menerima vaksin Pfizer. Pasien yang memiliki tingkat obesitas yang tergolong parah memiliki efektivitas lebih rendah lebih dari tiga tingkat daripada mereka yang memiliki berat badan normal.

Sedangkan di antara mereka yang menerima vaksin Sinovac, orang dengan obesitas parah dan tidak pernah terinfeksi memiliki antibodi lebih rendah 27 kali ketimbang orang-orang berat badan normal.

Baca Juga:

Siapa yang termasuk dalam golongan obesitas parah?

Para peneliti membandingkan respons imun terhadap vaksin dalam 124 orang relawan dengan berat badan berlebih yang parah, yang digolongkan memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI) melebihi 40. Mereka dibandingkan dengan orang-orang berat badan normal yang digolongkan dalam BMI kurang dari 25.

Secara keseluruhan 130 orang peserta telah menerima dua kali dosis vaksin Pfizer dan 160 orang divaksin jenis Sinovac.

Vaksin Pfizer (Image: Opindia)

Selagi Pfizer memproduksi antibodi yang lebih signifikan keteimbang Sinovac, namun penelitian tetap menemukan penurunan efektifivitas bagi mereka yang memiliki berat badan berlebih.

Namun, pimpinan studi, Volkan Demirhan Yumuk dari Istanbul University memperingatkan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi temuannya ini.

Featured

3 Metode Eksekusi Mati Paling Sadis di Era Romawi

Published

on

By

metode eksekusi mati

Di zaman yang modern ini, metode eksekusi mati biasanya dilakukan dengan cara menembak bagian jantung, penggal kepala atau bahkan dengan suntik mati. Namun, pernahkah kalian mengetahui metode eksekusi mati yang dilakukan di era Romawi kuno?

Pada zaman Romawi kuno, metode eksekusi mati yang pernah dilakukan terbilang sangat sadis untuk menyebabkan kematian bagi para tindak kejahatan. Misalnya, para tindak kejahatan akan dilemparkan dari tebing yang tinggi hingga bahkan dituangkan cairan panas ke tenggorokan.

Lantas apa saja metode eksekusi mati lainnya yang terbilang cukup sadis? Yuk simak penjelasannya di bawah ini sebagaimana dikutip dari National Geographic.

Baca Juga:

Metode eksekusi mati: Dilempar dari ketinggian 80 kaki

Ilustrasi (National Geographic)

Di zaman Romawi kuno, bagi para tindak kejahatan seperti pembunuh, pengkhianat dan budak pencuri akan dilempar dari tebing setinggi 80 kaki atau 24,384 meter. Dimana, para tindak kejahatan akan diterjunkan secara bebas dan akan tewas seketika saat membentur dasar dari tebing.

Adapun, tebing yang terkenal sebagai tempat eksekusi mati tersebut adalah Batu Tarepeian (Tarpeian Rock).

Poena cullei

Ilustrasi (National Geographic)

Metode ekseksusi mati berikutnya disebut dengan Poena cullei atau hukuman karung. Hukuman ini dijatuhkan kepada orang yang telah membunuh orang tuanya.

Orang tersebut akan dimasukkan ke dalam karung berbahan kulit bersamaan dengan beberapa hewan seperti, anjing, monyet, dan ular. Kemudian, diikat dan selanjutnya dibuang ke air yang dalam.

Hukuman ini terkenal pada masa pemerintahan Kaisar Hadrianus dan sempat berhenti sekitar abad ke-3 Masehi saat pemerintahan Kaisar Konstantinus. Namun, metode ini dilanjutkan kembali pada masa pemerintahan Kaisar Yustinus.

Cairan emas yang dituangkan ke Tenggorokan

Metode ekseksusi mati ini pernah diberlakukan kepada Jenderal Romawi Marcus Liciunus Crassus karena memiliki rasa haus akan kekayaan.

Dalam metode ini, orang yang bersalah akan dituangkan sebatang emas cair ke dalam tenggorokannya sehingga menyebabkan kematian. Panas yang dihasilkan oleh lelehan emas akan mengakibatkan tenggorokan serta organ tubuh lainnya terbakar dan akhirnya mati dengan cara yang amat menyiksa.

Meskipun terkenal sangat kejam, metode ini telah diadopsi oleh kerajaan-kerajaa lain selain Romawi untuk menghukum orang-orang yang bersalah.

Continue Reading

Terkini

Banyak Dilakukan ke Hewan, Akankah Kloning Manusia Bisa Terwujud?

Published

on

By

kloning manusia

Kloning manusia menjadi hal yang menarik untuk dibahas setelah sebelumnya pada tahun 1996 para peneliti berhasil mengkloning mamalia pertama di dunia, yaitu domba Dolly.

Domba Dolly merupakan hasil kloning dari sel kelenjar susu domba berumur enam tahun dan dikultur di laboratorium menggunakan jarum mikroskopis.

Setelah menghasilkan sejumlah telur dari hasil kultur tersebut, telur kemudian ditanamkan ke dalam domba betina pengganti dan melahirkan satu domba yang diberi nama Dolly.

Dengan begitu, para peneliti pendukung menyebut bahwa hal ini menjadi kemajuan ilmu kedokteran dan suatu saat kloning pada manusia juga bisa terwujud.

Baca Juga:

Apa itu kloning?

Domba Dolly, mamalia pertama di dunia yang lahir dari hasil kloning (Wikipedia)

Sebelum menyelam lebih dalam, menurut National Human Genome Research Institute (NHGRI) yang dikutip dari laman Detik, kloning merupakan suatu proses untuk menghasilkan salinan genetik dari suatu entitas biologi. Selain itu, kloning juga dapat dimodifikasi sehingga menghasilkan individu baru yang lebih sempurna.

Kloning manusia akan menggunakan Teknik kloning reproduksi

Ilustrasi (Unsplash/Warren Umoh)

Dilansir dari laman Detik, kloning pada manusia kemungkinan besar nantinya akan menggunakan teknik kloning reproduksi. Dimana, teknik ini akan menggunakan DNA dari sel kulit yang diletakan pada sel telur pendonor yang sudah diangkat DNA-nya. Kemudian, diletakkan di dalam tabung reaksi.

Setelah telur mulai mengalami perkembangan, telur akan diambil dan ditanamkan ke dalam rahim wanita dewasa.

Kontra terkait kloning manusia

Ilustrasi (Hipwee)

Kendati demikian, banyak yang menentang terkait dilakukannya kloning pada manusia. Selain tidak etis, kloning manusia dinilai terlalu berisiko.

Menurut Professor hukum dan genetika dari Universitas Stanford, kloning pada manusia dapat menimbulkan sejumlah masalah psikologis, sosial dan fisiologis. Selain itu, kloning juga dapat menyebakan kemungkinan kematian yang tinggi.

Sebetulnya, kloning manusia bisa saja terwujud mengingat perkembangan teknologi saat ini sudah jauh berkembang. Namun, peneliti masih menimbang perihal risiko dan juga keetisan terkait kloning manusia. Selain itu, kloning manusia juga dianggap melanggar prinsip-prinsip martabat manusia, kebebasan dan kesertaran.

Continue Reading

Featured

Senang Menyendiri Menjadi Tanda Orang Cerdas, Kok Bisa?

Published

on

By

senang menyendiri

Kebiasaan senang menyendiri bukanlah menjadi hal yang buruk, melainkan salah satu pertanda bahwa Anda adalah orang yang cerdas.

Berdasarkan studi yang dilakukan di British Journal of Psychology pada tahun 2016, yang dikutip dari laman National Geographic menjelaskan, kebanyakan orang merasa puas dan bahagia bila memiliki banyak teman, kecuali Anda adalah orang cerdas di atas IQ rata-rata.

Baca Juga:

Rasa senang menyendiri timbul akibat kecerdasan evolusi

Ilustrasi rasa senang menyendiri (Unsplash/Rifky Nur Setyadi)

Orang yang cerdas biasanya menginginkan pertemanan yang berkualitas. Sehingga, tak jarang orang cerdas terlihat lebih selektif dalam berteman atau bahkan lebih senang menyendiri.

Kendati demikian, menurut dua peneliti yaitu Normal Li dari School of Social Sciences, Singapore Management University, dan Satoshi Kanazawa di London School of Economic and Political Science, Inggris, kecerdasan evolusi menjadi dasar munculnya rasa senang untuk menyendiri.

“Analisis data ini mengungkapkan bahwa berada di sekitar kerumunan orang yang padat biasanya menyebabkan ketidakbahagiaan, sementara bersosialisasi dengan teman biasanya mengarah pada kebahagiaan—yaitu, kecuali orang tersebut sangat cerdas,” tulis para peneliti.

Individu cerdas lebih mementingkan bersosialisasi dari persahabatan

Ilustrasi (Unsplash/Geoffroy Hauwen)

Ketika memiliki suatu sirkel pertemanan, mereka cenderung hanya bergaul dengan segerombolan yang itu-itu saja. Sementara itu, orang cerdas akan mengesampingkan hal itu.

Menurut para peneliti, orang yang cerdas condong mengesampingkan sirkel pertemanan dan lebih memilih bersosialisasi lebih sering daripada orang yang cerdas.

Sehingga, wajar saja orang cerdas lebih memilih senang menyendiri karena terkadang sangat sedikit orang yang bisa berbagi dengan apa yang dirinya ketahui. Menurutnya, persahabatan yang baik bukanlah tentang kuantitas melainkan kuantitas.

Continue Reading

Trending